Berita  

Relawan MAPEL Tebing Tinggi dan Mahasiswa Bantu Korban Banjir di Tapsel

dstvnews.com Tapanuli Selatan-Dewan Eksekutif Cabang Masyarakat Pelestari Lingkungan MAPEL Indonesia Kota Tebing Tinggi Provinsi Sumatera Utara mengirimkan Tim Relawan Bersama Beberapa Organisasi Mahasiswa dalam rangka membantu masyarakat yang menjadi korban banjir dan tanah longsor di Desa Sibara bara Kecamatan Angkola sangkunur Kabupaten Tapanuli selatan provinsi Sumatera Utara.
Tim Relawan MAPEL Kota Tebing Tinggi dan organisasi mahasiswa berangkat menuju lokasi bencana, Yang sebelumnya melakukan penggalangan dana Donasi korban Banjir dan selanjutnya Menyalurkan Donasi untuk warga yang terdampak bencana banjir di Tapanuli selatan.

WARGA TERSIKSA, AKSES JALAN DESA SIBARA-BARA RUSAK PARAH SETELAH BANJIR, PEMERINTAH TAPSEL BUNGKAM

Penderitaan warga Desa Sibara bara, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Sumatera Utara, seolah tak berujung kini berubah menjadi kubangan lumpur yang nyaris tak bisa dilewati oleh kendaran kecil. Namun, yang menyakiti warga bukan kubangan lumpur yang dalam, melainkan sikap pemerintah yang tidak peduli dan seakan-akan tuli terhadap nasib daerah tersebut.
Gerakan mahasiswa ini mucul setelah melakukan penyaluran donasi untuk daerah yang terkena bencana alam, dimana akses jalan utama desa tersebut kini sudah menyerupai jalur maut. Menyaksikan bagaimana sekolah-sekolah yang belum aktif, di karnakan halaman dan kelas yang masih dipenuhi oleh lumpur.
Mahasiswa dari beberapa Ormawa mengecam keras atas sikap bungkam Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan yang hingga hari ini tidak memberikan tanggapan, apa lagi tidakan nyata. Ketidakpedulian ini dianggap sebagai penghinaan terhadap warga Desa Sibara bara.
Salah satu Perwakilan Mahasiswa, Arga.W (PK PMII UNISU), mengungkapkan kekecewaan yang mendalam, Ia menilai pemerintah daerah telah gagal meberikan jaminan keselamatan dan mobilitas bagi rakyatnya sendiri.
Kami melihat jalan yang memprihatikan sudah tidak layak disebut sebagai jalan lagi. Kami selaku mahasiswa bertanya-tanya apakah pemerintah daerah sedang tidur? Banjir sudah lama berlalu, tetapi tidak ada satu pun alat berat yang menyentuh jalan ini. Jangan salahkan kami jika mahasiswa barasumsi bahwa Pemerintah Tapsel sengaja membiarkan warganya tersiksa.
Tegas Arga.W saat memperlihatkan jalan yang penuh kubangan lumpur.

Proposal sudah di ajukan, akan tetap oleh pihak pemerintah tidak mendapat respon balik bahkan berkali-kali para warga minta untuk perbaikan akses jalan, tetap tidak ada respon yang pasti buat warga.
Warga mengeluh atas akses jalan tersebut, dan tidak dapat lagi bersuara. Setelah terjadi bencana banjir akses jalan makin memburuk. Salah satu tokoh masyarakat Pak Dalman Nasution.
“Kami tidak meminta untuk jalan ini di aspal licin, tetapi kami minta jalan kami ini untuk di rata kan, agar kami bisa beraktivitas”
Mahasiswa dari MAPEL (Masyarakat Pelestarian Lingkungan) menegaskan bahwa kami tidak akan berhenti hanya pada tatapan kasihan. Mereka menuntut Dinas PUPR dan Bupati Tapanuli Selatan untuk segera memberikan pernyataan resmi dan melakukan tindakan darurat di lapangan.
“Kami tidak butuh ucapan janji, Warga Sibarabara butuh batu, butuh pengerasan jalan, butuh akses yang manusiawi. Kami mahasiswa yang menuntut keadilan bagi Sibara bara,” Tegas Ketua MAPEL Arwanda Giffari
Kondisi Desa Sibara bara kini menjadi simbol nyata ketimpangan pembangunan di daerah. Disaat pusat kota di percantik, warga di pinggiran harus bertaruh nyawa diatas lumpur demi menyambung hidup, tanpa kepastian kapan pemeritah akan peduli.

Red.